Green Dakwah LDII

green-dakwah-islam-ldii

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) merupakan sebuah lembaga dakwah yang menyeru / mengajak ke umat ke jalan Allah dengan hikmah dan memberikan nasihat dengan kebaikan yang bersumber Al-Quran dan hadist (Sunnah) Nabi Muhammad SAW.

Dalam praktek dakwahnya, LDII mengacu pada pola green dakwah LDII.

Adapun isi green dakwah itu berisi : dakwah berpedoman pada Al-Quran dan hadist, dakwah yang membawa kesalehan sosial, dakwah santun, sejuk dan tasamuh/toleransi, dakwah yang membawa kemaslahatan umat, dakwah berwawasan lingkungan, dakwah dengan memperhatikan kesehatan yakni tanpa tembakau dan menjauhi asap rokok dan dakwah yang dibawakan dengan kasih sayang.

Oleh karena itu. LDII baik dalam dakwah bil qolam, maupun dakwah bil hal tidak melakukan cara-cara radikal, kekerasan atau anarkis,” ungkap KH Abdullah Syam, Ketua Umum DPP LDII.

Dikemukakan Abdullah Syam bahwa LDII Mengajak dan menyerukan kepada seluruh Umat Islam untruk memahami ajaran Islam secara mendalam melalui pengajian-pengajian.

“Tentunya juga, pemahaman Pancasila, UUD 1945 dan wawasan kebangsaan perlu terus ditingkatkan,” ujarnya.

Haqiqinya, Islam tidak pernah mendukung tindak kekerasan, bahkan Islam mengecam tindakan tersebut. Islam adalah agama yang cinta damai, menjunjung tinggi hak setiap warga masyarakat, mengedepankan sikap toleransi dengan agama lain. Maka, siapapun dia, dari manapun ia jika “katanya” beragama Islam namun bertindak kekerasan dan kekisruhan tentunya mereka tidak mewakili Islam.

Bila kita melihat perjuangan Nabi saw dan sahabat di Madinah selalu mengedepankan budaya kedamaian. Orang Islam menghargai kerukunan beragama, hingga melahirkan piagam Madinah. Inilah salah satu bukti bahwa Nabi saw dan sahabat selalu bersikap toleransi dan menjauhkan sikap anarkis lagi biadab. Maka Islam tidak pernah mencontohkan tindak kekerasan. Sebagaimana ditegaskan dalam firmanNya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 256).

Konsep Islam yang telah diturunkan Allah swt kepada Nabi saw sungguh sangat sempurna. Islam agama yang universal, lengkap dengan segala atribut untuk menghadapi dunia modernisasi. Namun demikian, bila ada orang Islam atau kelompok yang mengaku dirinya Islam bertindak kekerasan dan tidak menjunjung tinggi kerukunan berarti dia sama sekali tidak mewakili Islam. Yang salah bukanlah ajaran Islam, tapi yang salah adalah orangnya, sebagian mereka tidak tahu bahkan tidak mau tahu dan tidak mengamalkan ajaran yang telah digariskan Islam.

Dakwah Islam bukan dengan memukul tapi dengan merangkul. Menyebarkan Islam bukan dengan menyinggung namun dengan menyentuh. Mensosialisasikan ajaran Islam bukan dengan saling mengejek namun dengan mengajak.

Sungguh indah Islam bila kita pelajari, hanya orang-orang salah tafsir ayat al-quran yang melakukan tindakan kriminal. Padahal kriminalisme adalah musuh Islam. Maka Islam memiliki budaya salam, dengan arti selalu mengedepankan kedamaian. Ditegaskan dalam firmanNya: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS al-An’am [6): 108).

Untuk membendung kerusakan Islam yang disebabkan oleh segelintir orang, maka umat Islam harus bersatu untuk melawan kekerasan, kriminalitas, dan tindakan anarkis. Umat Islam harus bersikap “Kedamaian Yes But Kekerasan No”. Sikap menolak kekerasan untuk menghilangkan citra Islam yang diidentikkan dengan kekerasan. Umat Islam harus mampu membendung siapapun dari umat Islam yang selalu bertindak anarkis.

Oleh karenanya, LDII dengan konsep dakwah sejuk, green dakwah, mengajak umat Islam untuk selalu mengamalkan ajaran Islam dengan mengamalkan dan mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kedamaian harus menjadi tongkat perjuangan dan eksistensi umat Islam di masa depan. Tindak kekerasan, anarkis dan krimilitas harus menjadi musuh bersama.

Green Dakwah adalah, bagaimana dakwah dapat menyejukkan, jauh dari kebencian dan dapat mewujudkan akhlaqul karimah atau berbudi pekerti yang luhur dalam kehidupan sehari-hari,” kata Prof Dr KH Abdullah Syam, Ketua Umum DPP LDII, saat pidato pembukaan Munas LDII VII di Hotel Shangri-La, pada 8 Maret 2011 silam.

Pemaksaan kehendak ataupun menyatakan diri paling benar, dalam konsep green dakwah alias dakwah yang ramah terhadap lingkungan ini, adalah kegiatan yang paling dihindari. Lantaran dapat memicu kekerasan antar umat beragama.

Pada dasarnya, semua agama tentu mengajarkan kedamaian dan menolak tindak kekerasan dan pemaksaan kehendak. Selalu menjunjung tinggi sikap kebersamaan, kekompakan dan persatuan. Kejahatan dan kekerasan menjadi musuh bersama yang paling utama. Maka, sikap optimisme untuk membangun bangsa Indonesia ke depan harus menjadi prioritas utama. Semua itu kita satukan dalam bingkai kebersamaan Bhinneka Tunggal Ika.

Maka dari itu, dalam mengawal moral dan karakter bangsa ini, mari kita lakukan dengan arif dan bijaksana. Jauhkan tindak kekerasan, anarkis dan krimilitas. Satukan langkah untuk menuju bangsa yang makmur, sejahtera dan damai dalam bingkai NKRI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *