Danrem 061/Suryakancana : Tingkatkan Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama

Komandan Korem 061/Suryakancana mengadakan silaturahmi dengan tokoh masyarakat lintas agama di wilayah Kodim 0608/Cianjur dengan tujuan untuk mempererat tali kekeluargaan dan kerukunan antar umat beragama, terutama di wilayah Kabupaten Cianjur, bertempat di Makodim 0608/Cianjur, Jumat (8/1/2021).

Hadir dalam acara itu Dandim 0608/Cianjur Letkol Ricky Arinuryadi SH MM dan para pemuka agama lintas agama, yakni dari MUI, Muhammadiyah, NU, LDII, PUI, Persis, beberapa pimpinan pondok pesantren, dan pemuka agama Kristen, Hindu, dan Budha. Sekretaris DPD LDII Kabupaten Cianjur, Budi Pribadi SPd, ikut hadir pada acara tersebut.

Kegiatan yang berlangsung di Makodim 0608/Cianjur tersebut berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Dalam sambutannya, Komandan Kodim 0608/Cianjur Letkol Ricky Arinuryadi SH MM menyampaikan rasa syukurnya bahwa indonesia suku bangsa dan agamanya beragam tapi masih bisa menjalin  kewajiban untuk saling mengingatkan untuk bisa saling menjaga toleransi.

“Mudah-mudahan para tokoh lintas agama bisa mejaga kehidupan yang harmonis di Cianjur. Peran para tokoh agama sangat penting dalam menjaga kondisi yang kondusif di masyarakat,” ujar Ricky.

Sementara, mewakili sambutan dari tokoh agama, yaitu Ketua PC NU Kab. Cianjur, KH Khoirul Anam memyampaikan bahwa acara ini sangat diidamkan para tokoh agama di Cianjur. Selain merajut kerukunan, juga merajut semangat keagamaan dan kebangsaan dalam satu rajutan agar tidak terjadi seperti yang terjadi di Afganistan dan Suriah.  

“Acara silaturahmi seperti ini sebagai perwujudan ukhuwah wathoniah dan ukhuwah bashariah. Mudah-mudahan acara seperti ini bisa dilaksanakan secara lebih intens,” harapnya.

Menutup kegiatan, Komandan Korem 061/Suryakancana Brigjen TNI Achmad Fauzi, S.IP, MM yang pernah bertugas di Kopasus dan Paspampres ini menyampaikan bahwa Indonesia yang memiliki lebih 1200 suku dan lebih dari 17.000 pulau ini, para tokoh semua agama telah sepakat mendirikan negara yang bernama Indonesia pada 75 tahun yang lalu.

“Saat itu banyak kepentingan negara besar terhadap indonesia. Kita dijajah selama 350 tahun dengan strategi diadu domba. Saat ini, kita jangan mau diadu domba lagi. Mari kita cintai NKRI. Jangan tiru negara-negara yang hancur gara-gara perang agama,” harap Fauzi.

Menurut Fauzi, kehancuran negara disebabkan ada ketidakadilan dari penguasa, sehingga rakyat yang minoritas diadu domba pihak asing agar melakukan pemberontakan kepada negara dan pemerintahan yang sah.

“Mari kita cintai negara ini, NKRI, dengan cara menjaga dan meningkatkan tolerasi dan kerukunan beragama,” pungkas Fauzi. (fadel)