Bingung Mau Memperkaya Komposisi Foto? Begini Metode Simpelnya

Bandung, (14/03/2021). DPW LDII Provinsi Jawa Barat bekerjasama dengan Senkom Mitra Polri Jawa Barat mengadakan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut dengan tema “Jurnalisme Cepat, Akurat, Positif, dan Berimbang”. Dalam pelatihan ini, peserta mendapatkan materi salah satunya jurnalis foto yang disampaikan fotografer profesional Fauzan Abdul Syukur Kesuma. Acara yang dilaksanakan semi-daring ini diikuti 248 peserta yang tersebar di 84 studio mini se-Jawa Barat.

Dalam pemaparannya, Fauzan mengatakan bahwa fotografer harus memahami cara komunikasi yang akan disampaikan kepada masyarakat. Dalam foto jurnalistik penting untuk melatih kemampuan untuk melihat sesuatu dengan rinci.

“Foto itu tidak astrada yang artinya asal terang gambar ada, tetapi bagaimana caranya kita harus mengemas visual ini dengan baik sehingga membuat penasaran pembacanya. Kalau ingin berita dilirik orang lain, maka fotonya harus dikemas terlebih dahulu. Biarkan foto yang berbicara. Dari foto tersebut para pembaca sudah mengetahui isi beritanya,” ujarnya.

Menurut Fauzan, ada metode yang memudahkan fotografer untuk memperkaya komposisi foto. Metode yang dikenal dengan sebutan Edfat ini diperkenalkan Walter Cronkite School Of Journalism and Mass Communication, Arizona State University. Edfat singkatan dari entire, detail, frame, angle dan time. Metode ini membantu kita untuk akrab dengan lingkungan dan juga melatih bagaimana cara pandang sesuatu dengan detail. Metode ini membantu menghasilkan foto dengan teratur, sehingga foto tersebut menghasilkan rangkaian cerita yang memudahkan orang untuk memahaminya. Bagaimana penjabaran metode ini?

Fauzan merinci tahapan metode ini, pertama entire, atau dikenal sebagai established shot, yaitu keseluruhan pemotretan sebuah tempat atau kejadian. Tahapan ini bertujuan untuk membuat rangkaian dari sebuah foto. Kedua, detail yang merupakan hal-hal rinci yang ada di suatu lokasi atau peristiwa. Jika entire mengambil gambar luas dan umum, pada detail berupa simbol, benda, atau mimik subjek. Ketiga, frame atau pembingkaian yang merupakan bagaimana cara kita menempatkan objek atau subyek di dalam foto.

“Keempat, angle atau sudut pengambilan menentukan dari arah mana kita akan mengambil suatu foto. Berbagai macam angle bisa digunakan saat memotret suatu objek atau subyek. Eye level view adalah angle normal yang mewakili posisi melihat manusia. Low angle menunjukan angle lebih rendah dari eye level view. Sedangkan high angle menunjukan angle yang lebih tinggi dari angle normal. Kelima, time atau waktu pengambilan memberikan variasi terhadap foto yang bisa kita hasilkan. Selain itu menentukan kemampuan fotografer dalam menangkap sebuah adegan atau peristiwa sehingga menghasilkan foto yang kuat dan dramatis,” pungkasnya. (syifa)