Bagaimana Investasi Asing Bisa Sejalan Dengan Kepentingan Nasional? Berikut Tipsnya Dari LDII

Jakarta (27/5/2021). Pemenuhan kebutuhan dan pembangunan suatu negara tak terlepas dari negara lainnya, berupa perdagangan dan investasi asing. Idealnya, kerja sama tersebut saling menguntungkan dan setara. Bagaimana caranya investasi asing di Indonesia bisa sejalan dengan kepentingan nasional? Berikut LDII memberikan tipsnya.

Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso mengatakan, perdagangan dan investasi asing merupakan salah satu bentuk pemerataan kesejahteraan antar negara. Jangan sampai kepentingan ekonomi yang berpondasi investasi asing merugikan salah satu pihak. Apalagi mengganggu kepentingan nasional. Pasalnya, perputaran invetasi dan perdagangan internasional mau tak mau bersinggungan dengan ideologi sebuah negara.

“Sistem perekonomian nasional kita diatur dalam Pasal 33 UUD 1945. Di dalamnya terdapat prinsip demokrasi ekonomi seperti usaha bersama dan berasaskan kekeluargaan. Ideologi yang terkandung dalam pasal tersebut berpihak terhadap rakyat sebagaimana Pembukaan UUD 1945,” ujarnya

Chriswanto menambahkan, dalam pembukaan UUD 1945 Alinea ke-4 disebutkan bahwa tujuan Negara Republik Indonesia adalah melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia. Secara konstitusional, pemerintah berkewajiban memproteksi masyarakat pada umumnya dan pelaku usaha domestik khususnya. “Investasi asing harus saling menguntungkan, kesetaraan, jangan sampai justru menjadi penjajahan baru,” imbuhnya.

Ia mengatakan, pihaknya mendukung kebijakan pemerintah yang mengatur persyaratan kepemilikan modal, perizinan, hak dan kewajiban berbagai pihak, transaksi perdagangan, penyerapan tenaga kerja, kontribusi bagi negara dan pengawasan kegiatan usaha investor asing.

“Bila berbagai hal tersebut tidak diperhatikan, selain bakal menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Juga rawan dengan konflik sosial dan larinya keuntungan yang tak semestinya ke luar negeri,” imbuhnya.

Sementara itu, Akademisi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta Ardito Bhinadi, sekaligus Ketua DPP LDII mengatakan, investasi asing di Indonesia dibutuhkan sebagai pendamping investasi dalam negeri.

“Karena diakui modal invesatasi dalam negeri belum mencukupi untuk kebutuhan pembangunan nasional. Untuk itu, investasi asing diarahkan untuk kepentingan nasional, selain untuk menumbuhkan ekonomi dan meningkatkan kesempatan kerja,” tuturnya.

Para investor dari mancanegara itu, membawa modal masuk ke Indonesia berupa modal fisik, teknologi, bahkan tenaga kerja. “Adakalanya mereka juga membawa tenaga kerja dari negeri mereka ke Indonesia,” ujarnya.

Senada dengan KH Chriswanto Santoso, Ardito menekankan investasi asing yang masuk harus menguntungkan masing-masing pihak dan sejalan dengan kepentingan bangsa. “Meskipun tenaga kerja dalam negeri adalah prioritas, kita menerima tenaga kerja asing terutama yang memiliki nilai lebih dibanding tenaga kerja dalam negeri,” urainya. Dengan demikian, terdapat transfer ilmu pengetahuan, pengalaman, dan teknologi.

Dengan demikian, investasi asing diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri, kesempatan kerja, dan kesejahteraan masyarakat. Namun ia juga menggarisbawahi pentingnya perencanaan investasi.

“Dalam jangka pendek, investasi asing yang masuk bisa menciptakan ketimpangan regional antara daerah yang memperoleh investasi dengan daerah-daerah lainnya. “Inilah perlunya perencanaan investasi asing dan dipikirkan oleh pemerintah pusat dan daerah,” imbuh Ardito yang juga pakar ekonomi syariah.

Daerah-daerah di sekitar investasi asing, harus dibangun sebagai pendukung wilayah yang menjadi pusat investasi. “Daerah tersebut bisa dibagun dengan investasi dalam negeri. Hal ini dilakukan untuk mengurangi ketimpangan regional dan ketimpangan pendapatan, di daerah yang sedang ada pembangun infrastruktur, pabrik, dan lain-lain,” ujarnya.

Dengan perencanaan investasi yang baik, pemerintah pusat dan daerah tak sekadar menyiapkan daerah tujuan investasi. Namun juga menciptakan pembangunan yang terintegrasi, sehingga terjadi pertumbuhan yang merata dan tak terkonsentrasi pada daerah tertentu.  

Berkaca dari Vietnam, negeri itu saat ini menjadi tujuan utama investasi asing di kawasan Asia. Negeri itu berhasil memikat investor dengan politik yang stabil, insentif pajak, gaji tenaga kerja yang kompetitif, dan peningkatan infrastruktur yang disukai para investor asing. Selain itu, Vietnam juga melindungi pemain lokal meskipun investasi asing membanjir.

Dinukil dari Vietnam Law and Legal Forum, negeri itu mulai menerapkan perlindung terhadap Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Peraturan yang disebut sebagai UU Dukungan UMKM mulai diterapkan sejak 2018 itu, bertekad melindungi UMKM.

Undang-undang ini juga menciptakan kerangka hukum untuk memobilisasi sektor swasta serta organisasi dan individu, di dalam dan luar negeri untuk bersama-sama memberikan dukungan terhadap UKM.  Terdiri dari empat bab dengan 35 pasal, Undang-Undang tersebut mengatur prinsip, sumberdaya, serta tanggung jawab hukum, organisasi dan individu yang terlibat dalam UMKM.

Sementara itu, senada dengan KH. Chriswanto Santoso, Ketua DPW LDII Provinsi Jawa Barat, H. Dicky Harun mengatakan, investasi asing yang masuk bukan hanya sebagai tambahan nilai dari perekonomian semata, namun juga merupakan peluang bagi tenaga kerja lokal untuk mendapatkan alih teknologi dari tenaga kerja asing.

“Kehadiran investasi asing bukan hanya memberikan keuntungan dari investasinya saja, namun juga dari transfer teknologi juga. Sehingga tenaga kerja lokal bisa mendapatkan tambahan ilmu dan bisa memberdayakan tenaga lokal secara maksimal,” urainya. (fadel)